Puisii banjarnegar II. Salah satu penggalan bait darikeempat puisi tentang musibah banjarnegara tersebut. "Tebang habis demi lembaran Jerit tak mungkin di dengar,Jangan mengeluh pada Yang Maha Kuasa Ataupun alam yang sedang murka Mengapa bencana datang melanda". Selengkapnya dari bait ini, disimak saja puisinya berikut ini.
Nampaklah keindahan alam. Pemandangan alam berjalan bersama bayang bayang. Udara malam angin sepoi sepoi menyapa ranting dan dedaunan. Timbulkan irama musik alam. Gunung yang tinggi menjulang menghiasi malam. Nyala lampu dikejahuan menambah pesona alam. Waktu trus berjalan. Bulanpun tenggelam hilang dari pandangn.
secangkir doa pada langkah yang mendewasa, membalutkan estafet di usia-usia yang menunggu. memudarkan masa samra. menguntai aksara tentang riwayat yang membaru. 4/. secangkir doa pada bait pelengkap, membingkisi lilin dalam doa yang mengucap. merapal hingga kecap, mengayap pengaminan yang acap.
Bahasa Bali adalah salah satu dari beberapa bahasa daerah yang memiliki cabang ilmu kesusastraan, mungkin tidak banyak yang tahu jika tidak semua bahasa daerah di indonesia memiliki bahasa kesusastraan. Sebenarnya saya bukan seorang yang ahli dalam bidang sastra dan puisi bahasa bali, meskipun saya adalah orang bali yang tinggal di bali.
B. Nilai Moral dalam puisi Indonesia Menangis karya Kartika Dewi. Setiap karya sastra pasti memiliki nilai-nilai yang terkandung, khususnya yaitu nilai moral. Nilai moral merupakan istilah manusia menyebut kemanusiaan atau lainnya dalam hal yang positif. Dalam puisi biasanya yang bersifat positif disebut bilai moral.
Semua bencana itu pada akhirnya akan merugikan manusia. Bencana-bencana yang terjadi merupakan tanda agar manusia berpikir untuk menjaga alam dan lingkungan. Itulah pesan-pesan yang hendak disampaikan dalam puisi “Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail.
. 445 154 300 426 226 249 411 269
puisi bencana alam 2 bait